• Document: MONITORING AKTIVITAS DEFORMASI GUNUN API MENGGUNAKAN GPS (GLOBAL POSITIONING SYSTEM)
  • Size: 1.77 MB
  • Uploaded: 2019-07-15 17:08:09
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

MONITORING AKTIVITAS DEFORMASI GUNUN API MENGGUNAKAN GPS (GLOBAL POSITIONING SYSTEM) 1. Pendahuluan Gunungapi merupakan salah satu bukti bahwa bumi kita hidup. Pertemuan antar lempeng tektonik merupakan salah satu penyebab utama terbentuknya gunungapi. Selain karena pertemuan antar lempeng, terdapatnya titik titik lemah pada permukaan bumi yang dapat diterobos oleh magma juga merupakan salah satu penyebab terbentuknya gunungapi (daerah ini disebut hotspot). Salah satu bentuk adanya aktivitas dinamis di dalam tubuh gunungapi adalah erupsi gunungapi. Erupsi gunungapi biasanya bersifat sangat destruktif. Akibat dari erupsinya suatu gunungapi, selain menyebabkan kerugian harta benda, erupsi gunungapi juga banyak memakan korban jiwa. Masyarakat yang tinggal di sekitaran daerah gunungapi biasanya telat untuk menyelamatkan diri ketika erupsi terjadi. Gunung api merupakan kenampakan alam yang sangat mengagumkan. Namun letusan gunung api sering menghancurkan bahkan memiliki dampak besar bagi lingkungan dan manusia. Dengan semakin padatnya pertumbuhan penduduk di dunia, semakin banyak orang- orang yang bertempat tinggal sangat dekat dengan gunung api. Tanah vulkanik memng sangat subur, namun juga memiliki ancaman yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Dampak bencana oleh erupsi Gunung Tambora, Indonesia pada tahun 1815 (92.000 korban jiwa), Krakatau, Indonesia pada tahun 1883 (36.417 korban jiwa), Nevado del Ruiz, Kolombia pada tahun 1985 (25.000 korban jiwa) menekankan bahwa perlu dilakukan tindakan untuk mengurangi dampak buruk yang ditimbulkan oleh letusan gunung api, salah satunya dengan melakukan monitoring. Oleh karena hal ini, sudah dilakukan suatu kegiatan yang disebut monitoring terhadap gunungapi. Monitoring ini merupakan kegiatan dimana kita melakukan pengamatan terhadap aktifitas suatu gunungapi. Dilihat dari perilakunya, monitoring gunungapi merupakan suatu kegiatan yang sangat penting untuk mengetahui kapan suatu gunungapi akan meletus. Jika 1 kita bisa memprediksi kapan gunungapi akan meletus, maka kita bisa melakukan kegiatan mitigasi terhadap bencana gunungapi. Untuk dapat mengetahui kapan dan dimana akan terjadi erupsi, maka perlu dilakukan monitoring seakurat mungkin. Beberapa metode yang berbeda seperti seismik, micrograivity, geomagnetic, geodetic, chemical, thermal, hydrologic, remote sensing dan observasi secara visual bisa digunakan untuk mempelajari mengenai gunung api (gambar 1). Gambar 1. berbagai teknik untuk memonitoring aktivitas gunung api (USGS, 2002). Pada bab ini akan dijelaskan apakah dan bagaimanakah peran GPS dalam kegiatan monitoring gunungapi. Didalam materi ini juga akan dijelaskan bagaimana penggunaan GPS dalam kegiatan monitoring. 2. Monitoring Deformasi Gunungapi Deformasi yang disebabkan oleh intrusi magma merupakan awalan dari terjadinya erupsi gunung api. Sebelum terjadi erupsi, permukaan tanah mengembang akibat tekanan yang meningkat di dalam magma chamber dangkal yang disebabkan oleh pergerakan magma yang naik. Magma yang dilepaskan menyebabkan terjadinya deflasi dari lereng gunung api (gambar 2.2). Pola dan tingkat perpindahan permukaan memperlihatkan tingkat dari 2 meningkatnya tekanan di dalam magma chamber (Dvorak & Dzurisin, 1997) sehingga memberikan informasi penting mengenai keadaan gunung api. Karena deformasi tanah cenderung mendahui terjadinya erupsi baik dalam periode jam hingga bulan, maka monitoring geodetic adalah monitoring yang tepat untuk hazard mitigation. Teknik untuk memonitoring deformasi tanah telah dikembangkan dari Precise Spirit Levelling menjadi Electronic Distance Measuring (EDM), dan yang lebih terbaru dengan menggunakan InSAR, dan survey GPS kontinyu (gambar 2). Gambar 2. Deformasi tanah akibat aktivitas gunung api (Abidin, 1998). Prinsip dasar perubahan permukaan tanah adalah ketika gunung api mau meletus akan menunjukkan peningkatan tekanan di dapur magma dan tekanan ini bisa menyebabkan gunung api tersebut mengembang (inflasi) dan apabila tekanan tersebut turun setelah meletus maka gunung api akan menunjukkan gejala mengempis (deflasi). Menggunakan teori elastik, posisi dan kedalaman sumber magma bisa ditentukan berdasarkan pengukuran deformasi tanah dan lokasinya dengan model matematis (Mogi, 1958). Diasumsikan bahwa deformasi disebabkan oleh sebuah sumber yang berbentuk bola (magma chamber) yang terletak di bawah gunung api yang mendesak tekanan hidrostatik naik menuju permukaan tanah. Ibid (1958) mengusulkan kerak bumi berperilaku elastik ketika terjadinya erupsi, sedangkan selama periode yang panjang deformasi setelah letusan, kerak berperilaku sebagai medium viscouselastic. Model yang simpel tersebut sangat efektif dan masih sangat digunakan hingga saat ini untuk mengestimasi lokasi sumber magma. 3 Dari tahun 1960 hingga 1980, digunakan teknik survey secara tradisional untuk memonitoring deformasi per

Recently converted files (publicly available):