• Document: BAB V AKTIVA TETAP PENDAHULUAN
  • Size: 60.98 KB
  • Uploaded: 2019-07-16 13:42:14
  • Status: Successfully converted


Some snippets from your converted document:

BAB V AKTIVA TETAP PENDAHULUAN Aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam keadaan siap pakai atau dengan dibangun lebih dahulu, yang digunakan dalam operasi perusahaan, tidak dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun. Misalnya gedung yang digunakan sebagai tempat melaksanakan kegiatan perusahaan (pabrik, kantor dan sebagainya), mesin-mesin yang digunakan untuk berproduksi atau melaksanakan kegiatan perusahaan tertentu dan aktiva lainnya yang sejenis. Ciri-ciri aktiva tetap berwujud : 1. Berwujud fisik artinya aktiva-aktiva tersebut dapat dilihat dan dapat dipegang atau diraba, karena bentuk fisiknya ada. 2. Dibeli untuk dipakai bukan untuk dijual kembali. Artinya aktiva tetap yang dibeli oleh perusahaan dimaksudkan untuk kegiatan operasi perusahaan dan bukan untuk diperjual belikan. 3. Mempunyai masa manfaat atau umur ekonomis lebih dari satu tahun. Artinya aktiva-aktiva itu dapat digunakan untuk jangka waktu yang panjang. Yang termasuk dalam aktiva tetap antara lain : 1. Tanah (land) 2. Land improvement (pengembangan tanah), misalnya biaya yang dikeluarkan untuk membuat jalan pejalan kaki disekeliling gedung, membuat pelataran parkir. 3. Bangunan (Building) 4. Mesin-mesin (Machinery) 5. Peralatan (Equipment) Aktiva tetap selalu dicatat sebesar nilai perolehnya (cost) yaitu semua biaya-biaya yang dikeluarkan sampai aktiva itu siap pakai dan dapat dipergunakan. Jurnal nilai perolehan tanah : Land Rp xx Cash Rp. xx Mis. Dibeli sebidang tanah secara tunai dengan harga Rp. 50.0000.000, biaya balik nama Rp. 1.000.0000, maka jurnalnya : Land Rp 51.000.000 Cash Rp. 51.000.000 1.1.1..1Masalah-masalah akuntansi untuk Aktiva tetap Transaksi-transaksi yang menyangkut aktiva tetap biasanya meliputi jumlah rupiah yang besar karena harga aktiva tetap umumnya relatif mahal. Oleh sebab itu transaksi-transaksi aktiva tetap harus dicatat dengan teliti, kesalahan dalam pencatatan aktiva tetap akan mempunyai akibat yang besar terhadap kewajaran laporan keuangan. Secara garis besar masalah-masalah akuntansi aktiva tetap dapat digolongkan menjadi 4, yaitu : 1. Penentuan harga perolehan aktiva tetap 2. Biaya selama aktiva tetap dipakai 3. Depresiasi (penyusutan) aktiva tetap 4. Pelepasan aktiva tetap Ad. 1. Penentuan harga perolehan aktiva tetap Aktiva tetap dapat diperoleh dengan cara-cara sebagai berikut : a. Dibeli secara tunai. Bila suatu Aktiva Tetap dibeli secara tunai, maka nilai aktiva tersebut dicatat sebesar jumlah uang yang dibayarkan. Contoh : Perusahaan membeli sebuah equipment secara tunai yang penawarannya Rp. 5.000.000, karena harga pembayarannya dilakukan secara tunai, maka diperoleh discount 3 %. Jurnal : Equipment Rp. 4.850.000 Cash Rp. 4.850.000 b. Dibeli secara kredit Bila suatu Aktiva Tetap dibeli secara kredit maka nilai aktiva tersebut dicatat sebesar harga tunainya, sedangkan bunga yang dibayar dari sisa cicilan tidak menambah nilai aktiva yang dibeli melainkan dicatat dalam Interest Expense. Contoh : Dibeli sebuah kendaraan secara cicilan dengan harga Rp. 75.000.000, Down Payment Rp. 25.000.000 dan sisanya dicicil selama 10 kali cicilan, dibayar setiap setengah tahun sekali dan ditambah bunga 12 % per tahun yang dihitung dari sisa cicilan yang terutang. Jurnal pada waktu membeli kendaraan : Automobile Rp. 75.000.000 Cash Rp. 25.000.000 Contract Payable Rp. 50.000.000 Bila menggunakan Sliding Rate (Effective Rate) Jurnal Cicilan Pertama, Contract Payable Rp. 5.000.000 à Rp. 50.000.000 : 10 kali Interest Expense Rp. 3.000.000 à 6/12 x 12% x Rp. 50.000.000 Cash Rp. 8.000.000 Cicilan ke dua : Contract Payable Rp. 5.000.000 à Rp. 50.000.000 : 10 kali Interest Expense Rp. 2.700.000 à 6/12 x 12% x Rp. 45.000.000 Cash Rp. 7.700.000 Bila menggunakan Flat Rate (bunga tetap) Cicilan Pertama : Contract Payable Rp. 5.000.000 à Rp. 50.000.000 : 10 kali Interest Expense Rp. 3.000.000 à 6/12 x 12% x Rp. 50.000.000 Cash Rp. 8.000.000 Cicilan ke dua : Contract Payable Rp. 5.000.000 à Rp. 50.000.000 : 10 kali Interest Expense Rp. 3.000.000 à 6/12 x 12% x Rp. 50.000.000 Cash Rp. 8.000.000 Jadi bila menggunakan sliding rate maka jumlah yang dibayarkan untuk setiap kali angsuran jumlahnya akan menurun sesuai dengan jumlah saldo yang masih tersisa, misalnya untuk angsuran pertama jumlah bunga yang harus dibayar sebesar Rp. 3.000.000, sedangkan untuk tahun ke dua sebesar Rp. 2.700.000. Sedangkan bila menggunakan flat

Recently converted files (publicly available):